Tampilkan postingan dengan label sastra timur tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra timur tengah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Sayap-Sayap Patah ( Kahlil Gibran )

Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..

Begitu rapuh dan mudah terluka..
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta

Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa..

Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam hati ini..

Mengisi kekosongan di dalamnya..

Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih

Menimbulkan segudang tanya


Menghimpun berjuta asa

Memberikan semangat..
juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa

Menghimpit bayangan

Menyesakkan dada..

Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…

Wahai ilalang…
Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini

Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku..

Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..

Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..

Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali

Desiran angin membuat berisik dirimu

Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku

Aku tak tahu apa maksudmu

Hanya menduga..

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana

Menunggumu dengan setia..

Menghargai apa arti cinta…

Hati yang terjatuh dan terluka

Merobek malam menoreh seribu duka

Kukepakkan sayap-sayap patahku

Mengikuti hembusan angin yang berlalu

Menancapkan rindu….

Disudut hati yang beku…

Dia retak, hancur bagai serpihan cermin

Berserakan ….

Sebelum hilang di terpa angin…

Sambil terduduk lemah….

Ku coba kembali mengais sisa hati

Bercampur baur dengan debu

Ingin ku rengkuh…

Ku gapai kepingan di sudut hati…

Hanya bayangan yang ku dapat….

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya

Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini

Ia telah patah..

Tertusuk duri-duri yang tajam….

Hanya bisa meratap….

Meringis..

Mencoba menggapai sebuah pegangan..

Sabtu, 18 Mei 2013

Cadas Tanios



Bayangkan jika anda berada di tahun 1830-an..bayangkan jika anda hidup disebuah desa dengan batu-batu cadas menjulang tinggi ada disekitar anda..dan bayangkan jika anda menjadi saksi sejarah seperti kisah yang terjadi dalam buku ini..
Sebuah kelahiran anak lelaki yang sangat dinanti oleh kedua orangtuanya..Tanios, dengan ibu; Lamia, wanita nan cantik jelita dan ayah; Gerios, kepala rumah tangga istana seorang Cheikh, penguasa desa Kfaryabda.
 Pada masa itu, masa ketika Tanios lahir dan akan mencatatkan namanya sebagai legenda dalam kisah ini, sistem pemerintahan Lebanon terdiri dari seorang Cheikh yang memimpin beberapa ratus keluarga, diatas Cheikh ada seorang Emir Montegne, diatas Emir ada Pachai Propinsi, di Tripoli, Damaskus, kemudian diatasnya lagi Saida atau Acre. Dan lebih tinggi lagi, jauh lebih tinggi, bertetangga dengan langit, ada Sultan di Istambul. Tetapi bagi warga Kfaryabda, tidak pernah melihat terlalu tinggi. Untuk mereka “Cheikh” sudah cukup tinggi.

Kelahiran Tanios..yang awalnya memberikan kebahagiaan bagi orangtuanya..berubah menjadi pergunjingan keseluruh desa, mengenai siapa sesungguhnya ayah kandungnya..mereka menduga bahwa Tanios bukan anak dari Gerios..tapi anak dari Cheikh mereka sendiri.. Cheikh Francis..?? hal ini menyebabkan rasa antipati masyarakat desa kecil itu terhadap Cheikh mereka..kisah ini menjadi hebat adalah karena kelapangan hati dari seorang pria..Gerios..yang tetap menyayangi Tanios..terlepas itu benar putra kandungnya atau bukan..sampai pada satu peristiwa, terbunuhnya seorang Pemimpin Gereja di sebuah hutan pinus..yang menyebabkan ayah dan putranya ini harus melarikan diri.

Ia adalah sebuah kisah historikal fiksi..yang dasar kisahnya pernah terjadi..menurut catatan yang ada dalam buku ini, pada abad ke-19, terjadi pembunuhan terhadap pemimpin gereja oleh seseorang yang bernama Aboukichk Maalouf..nama belakang yang sama dengan penulis buku ini.. Aboukichk Maalouf bersama dengan anaknya melarikan diri ke Cyprus dan dengan bantuan kaki tangan Emir, mereka berdua berhasil dibawa pulang ke negerinya dan dijatuhi hukuman mati.

Senin, 15 April 2013

Snow (Di Balik Keheningan Salju)



Lagi, kisah tentang benturan peradaban: timur dan barat. Setelah karya yang sebelumnya dengan friksi yang sama My Name is Red. Snow adalah buku yang dipersembahkan Orhan Pamuk secara pribadi untuk putrinya; Rüya.

Salju..
mengingatkan saya kepada Tuhan,
mengingatkan saya pada keindahan dan kemisteriusan makhluk hidup,
pada kebahagian yang paling asasi, yaitu kehidupan.

Salju..
mempersatukan umat manusia.
seolah-olah menjadi selimut yang menyelumbungi kebencian,
keserakahan, dan kemarahan,
dan membuat semua orang merasa berdekatan.


Dan kepingan salju adalah sekelumit catatan hidup Ka. Puisi yang telah membuka kunci makna kehidupannya, yang sekarang dilihatnya berada di dalam inti dirinya. Tetapi seperti puisi itu sendiri yang tidak memberikan penjelasan sederhana sulit untuk mengatakan seberapa banyak dia telah memutuskan pada saat itu, dan seberapa banyak kehidupannya ditentukan oleh simetri tersembunyi yang berusaha dia ungkapkan dalam buku ini.

Kerim Alakuþoðlu*, ia tidak suka nama itu dan lebih senang dipanggil dengan inisialnya; Ka. Ka seorang ‘buangan politik’ karena paham yang dianutnya (Ateis) dan diberi suaka ke Jerman,setelah lebih dari 12 tahun dan ia telah memutuskan hubungan dengan para komunis Turky. Ka kembali ke negerinya..

Disebuah kota yang bernama Kars, ia bertemu kembali dengan cinta lama dan terpendamnya, Ýpek, seorang wanita yang kini telah bercerai.

Tujuan Ka datang ke kota Kars adalah untuk menyelidiki (sebagai seorang wartawan) banyaknya wanita muda yang melakukan bunuh diri, Teslime adalah salah satunya. Teslime melakukan bunuh diri karena larangan pemakaian jilbab di sekolahnya. Kisah bunuh diri para wanita ini, menyeret Ka menjadi saksi mata penembakan direktur pendidikan oleh seorang ekstrimis muslim ketika ia dan Ýpek berada dalam sebuah kafe.

Kota Kars dan Ýpek telah menginspirasi Ka untuk membuat puisi lagi, setelah ia mengalami kebuntuan dalam menulis puisi ketika ia berada di Jerman. ‘Salju’ adalah puisi yang menggambarkan pengalaman mistiknya tentang segala hal yang terjadi dalam dirinya ketika ia berada di Kars. Setelah ‘Salju’ mengalir lancar karya-karya puisinya yang lain.

Wanita lain yang memberi kesan di hati Ka adalah Kadife, adik kandung dari Ýpek. Seorang muslimah taat (dianggap radikal dinegerinya), Kadife bergabung dan menjadi pemimpin suatu organisasi kelompok Turki perempuan yang memperjuangkan hak mereka untuk berhijab serta menawarkan tempat berlindung bagi perempuan yang terancam oleh anggota keluarganya. Ka menyebutnya sebagai ‘Feminis Islam’.

Pada pertengahan cerita dalam buku ini diketahui..

Ternyata Ka bukanlah laki-laki yang dicintai sesungguhnya oleh kedua wanita ini (Ýpek dan Kadife). Mereka mencintai Blue (dinovel terjemahan Serambi, namanya menjadi Lazuardi, Lazuardi = langit??), seorang islamis politis yang hendak melancarkan kudeta pada Junta Militer, dan mengembalikan Turki menjadi negara Islam bukan sebagai negara sekuler seperti yang dijalankan oleh Atatürk.

Hampir lupa, satu lagi! Pada tengah kisah ada seorang tokoh, kita sebut saja seorang narator bernama Orhan (lagi-lagi Orhan Pamuk menyisipkan namanya , lagi!). Ia adalah seorang novelis yang berperan penting khususnya pada akhir cerita dalam novel ini, ia memiliki hubungan yang dekat dan erat dengan Ka(sahabat Ka), lewatnya-lah penggalan kehidupan Ka disusunnya lagi dalam sebuah buku. Setelah peristiwa empat tahun sebelumnya yang membuat Ka harus kehilangan nyawa. Cerita Ka ini, berkaitan juga dengan buku Orhan Pamuk yang lain; The Black Book dan The Museum of Innocence.

Sebuah novel yang bercerita tentang Turki sebagai negara sekuler (oleh Atatürk pada tahun 1923. Atatürk memperkenalkan sekularisasi negara dalam UUD Turki tahun 1924, bersama Reformasi Atatürk) yang menilai jilbab sebagai sebuah kemunduran dan hambatan dalam modernisasi Republik Turki yang baru (lepas dari dinasti Ottoman).

Yang terjadi adalah pertentangan dari kaum muslim konservatif dengan keyakinan yang taat dan berakibat bentrokan dengan pihak militer (negara).

Kontroversi dari pemerintahan yang dijalankan oleh Atatürk. Antara lain di bawah kepemimpinannya, Khalifah atau imam tertinggi dalam politik dan keagamaan dihapus, simbol kesultanan Ottoman juga dihapuskan, kekuatan otoritas agama dan fungsionaris berkurang dan akhirnya dihapuskan(Wikipedia).

Sungguh sebuah novel yang berat, tapi lebih ringan dari My Name is Red. Mengungkap tabir tentang apa yang terjadi dalam sebuah bangsa, dimana kebijakkannya (sekulerisme) disatu sisi memberikan manfaat terhadap modernisasi bangsa dan sisi lain adanya pemaksaaan kehendak seorang pemimpin terhadap kebebasan menjalankan perintah agama bagi rakyatnya.

Aku sarankan bagi yang pertama kali membaca karya Orhan Pamuk untuk membaca Snow terlebih dahulu.. lebih ringan karena rentang waktu kejadian pasca perang dunia II.. serasa belajar sejarah..

* Alakuþoðlu (dibaca: alakuoolu??/entahlah gak terlalu yakin ini benar atau tidak)

My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)

Merah adalah..
Jika kita menyentuh dengan ujung jari kita, akan terasa seperti sesuatu antara besi dan tembaga. Jika kita meneteskannya ke dalam telapak tangan kita, warna itu akan membakar. Jika kita menjilatnya, akan terasa gurih, seperti daging yang digarami. Jika kita menempelkannya di antara bibir kita, rasanya akan memenuhi rongga mulut kita. Jika kita membauinya, aromanya seperti kuda. Merah itu laksana sekuntum bunga, dengan wangi seharum bunga aster, bukan sekuntum mawar merah.

Kisah dimulai dari perintah Sultan untuk membuat: Kitab Segala Pesta, kitab tersebut adalah kado yang ditujukan untuk Hakim Agung Venesia, yang akan berkunjung ke Istambul. Kitab yang merupakan simbol kekuatan yang hebat dari kekhalifahan Islam Sultan yang agung pada tahun 1000 Hijriah (1579 Masehi). Kitab yang juga berisikan manuskrip bergambar dengan penuh kerahasiaan, terutama dalam menutupi pembuatannya, yakni sebagai lambang perdamaian terhadap orang-orang Venesia.

Para miniaturis pembuat ilustrasi dari manuskrip bergambar dan kita mengenalnya dengan julukan:
Bangau – spesifikasinya dalam pembuatan Pohon. Bangau adalah Mustafa Chelubi, ia menyebut pelukis berdosa, miniaturis muslim pertama yang pergi ke medan perang dan kembali dalam keadaan selamat dan segar bugar.

Zaitun – spesifikasinya dalam pembuatan Kapal-kapal dan Rumah-rumah. Zaitun adalah Velijan, paling pendiam dan perasa, tetapi juga yang paling besar kesalahannya dan paling berkhianat, serta yang paling hebat dalam bermuslihat.

Kupu-kupu - spesifikasinya dalam pembuatan layang-layang serta bunga. Kupu-kupu adalah Hasan Chelubi dari pabrik Mesiu, sangat tampan, banyak tingkah, serampangan, dan peragu.

Ada Shekure ibu dua anak: Shevket dan Orhan (namanya sama dengan penulis novel ini) yang menanti suaminya tak kunjung pulang setelah lebih dari 4 tahun berperang di Persia, ada Hitam yang merupakan sepupu dari Shekure dan masih memendam rasa cintanya terhadap Shekure, ia telah kembali dari pengembaraannya selama lebih dari 12 tahun, apakah pada akhirnya ia bisa bersatu dengan Shakure? Setelah segala usaha yang dilakukan Hasan (adik ipar Shakure yang juga jatuh cinta pada Shakure) untuk memisahkan keduanya..

Adanya kecemburuan dalam bengkel seni dalam pembuatan kitab tersebut, menyebabkan salah satu orang kepercayaan Sultan: Elok Effendi harus mati.
Siapakah yang membunuhnya? Apakah Hitam yang membunuhnya atau salah satu dari miniaturis (Bangau, Zaitun dan Kupu-kupu) itu? Dan pertanyaan paling penting, bisa selesaikah kitab pesanan Sultan dengan banyaknya konflik dan masalah yang tercipta karenanya..

Novel yang rumit sekaligus sangat indah karya Orhan Pamuk, My Name is Red: menurut pendapatku isi novel ini 80% adalah seni (seni lukis, dan sastra: Turki pada khususnya) dan 20%-nya drama (cinta dan konspirasi), jadi bersiaplah karena ada banyak uraian mengenai: bagaimana membuat karya ilustrasi untuk sebuah buku/kitab, bagaimana mencampurkan warna, dan bagaimana perbandingan karya seni antara timur (Turki, Persia, dan China) dan barat (Eropa). Diceritakan dari sudut pandang masing-masing tokohnya, seakan-akan mereka menelanjangi diri mereka sendiri dihadapanmu, apa rahasia dan hasrat terdalam mereka, di novel ini kalian semua akan mengetahuinya. My Name is Red ini telah mendapatkan penghargaan : Prix du Meilleur Liver Estranger (Prancis, 2002), Premio Grinzane Cavour (Italia, 2002), dan International IMPAC Dublin Literary Award (Irlandia, 2003).