Tampilkan postingan dengan label sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Hujan Bulan Juni

( Sapardi Djoko Damono )



tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sabtu, 18 Mei 2013

Perburuan


Diburu! Lari! Dikepung! Berpendam diri dalam gua! Hidup sebagai kere/pengemis. Raden Hardo, anak seorang wedana, keturunan Bangsawan, anggota PETA yang desertir bersama Shodanco Dipo, dan beberapa Shodanco lainnya, Shodanco Hardo adalah pejuang yang sangat cinta Indonesia, tekadnya satu: merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Ia rela meninggalkan orang tua, tunangannya; Ningsih, harta dan jabatannya. Karena ia dianggap berkhianat dari PETA, ia menjadi seorang pelarian, hebatnya lagi betapapun giatnya pasukan Seinendan, dan Keibodan mencari dan mengepungnya hingga ke hutan dan pelosok pedalaman tak mampu untuk menemukan dan menangkapnya.

Kisah dengan rentang waktu pada masa penjajahan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945. Berlatar perjuangan dalam merebut kemerdekaan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Shodanco Karmin, Karmin ikut memburu Hardo karena simpatinya yang ia tunjukkan pada Jepang, hal ini tentu menjadikanya sebagai seorang pengkhianat bukan hanya terhadap temannya sendiri; Hardo dan Dipo juga pengkhianat terhadap bangsanya sendiri. Diakhir kisah ada hal yang mengejutkan tentang Ningsih.. dan tentang sikap memaafkan dari dalam diri seorang Hardo.

Perburuan: novel pendek Pramoedya Ananta Toer yang ia tulis ketika didalam penjara, tertera didalam buku: Penjara Bukit Duri, 1949. Istilah Shodanco mengingatkan kita pada Shodanco Supriyadi dan Shodanco Singgih dikehidupan nyata.

Mangir


** spoiler alert ** Pasca Majapahit runtuh, kerajaan di Jawa yang tersisa, salah satu kisahnya adalah tentang ambisi Panembahan Senapati, Raja Mataram yang berkuasa saat itu untuk menguasai dan memperbesar daerah kekuasaannya, salah satunya adalah menguasai Perdikan Mangir, yang letaknya berdekatan dengan kerajaan Mataram.

Demi kekuasaan, Panembahan Senapati rela untuk meng-halalkan segala cara, termasuk dengan mempergunakan putrinya sendiri, Putri Pembayum ,untuk menggoda Ki Ageng Mangir atau Wanabaya Pardikan Mangir, Putri Pembayum masuk ke Pardikan Mangir menyamar menjadi penduduk desa, dengan nama samarannya: Adisaroh, Wanabaya terpikat akan kecantikan Adisaroh hal ini kemudian menimbulkan masalah dan menjadi bahan pertengkaran antara Wanabaya dan Baru Klinting rekan seperjuangannya(lupa dia jabatannya apa).

Waktu berlalu Putri Pembayum yang pada awalnya tugasnya adalah menggiring Wanabaya agar ia dihabisi di Mataram, tetapi yang terjadi sang Putri malah jatuh cinta dan Putri Pembayum menceritakan identitas aslinya ke suaminya..Wanabaya.

Singkat cerita terjadi penyerbuan di Kerajaan Mataram dan pertempuran yang berdarah-darah akhirnya menewaskan Wanabaya, Baru Klinting dan semua para Demang Perdikan Mangir dan pada akhirnya Perdikan Mangir dikuasai Mataram.

Layar turun. Drama selesai.
*Membayangkan drama ini dipentaskan, pasti akan lebih menarik daripada hanya sekedar membaca tulisan naskah dramanya.

Selasa, 30 April 2013

Sitti Nurbaya : Kasih Tak Sampai

Romeo and Julietnya Indonesia, Roman dan Tragedi kisah anak manusia bertempat di kota Padang tahun 1896, Sepasang remaja anak dari bangsawan Sam/Samsulbahri/Sjamsulbahri, 18 tahun anak dari Sutan Mahmud Syah, seorang penghulu di Padang dan Nur/Sitti Nurbaya/Sitti Noerbaja, 15 tahun anak dari Baginda Sulaiman saudagar kaya, mereka berdua adalah tetangga sekaligus teman satu sekolah. Mereka mulai jatuh cinta, takdir memisahkan mereka, mereka bersatu kembali, takdir memisahkan mereka untuk selamanya (Nurbaya mati karena diracun), Samsulbahri mencoba bunuh diri sebanyak dan sekurang-kurangnya 4 kali tapi gagal (1. menembakkan pistol dikepala, meleset, 2. Gantung diri, tiang roboh, 3. Minum racun, gelas pecah tertembak musuh, 4. Terjun dari sungai dan tenggelam, ada seseorang yang menyelamatkannya) dan pada akhirnya Samsulbahri mati akibat luka dikepalanya karena duel dengan Datuk Meringgih dalam satu pertempuran karena masalah Belasting (Pajak mata pencaharian) di Padang, Samsulbahri berhasil membalas dendam, ia pun membunuh Datuk Meringgih dengan menembakkan pistol tepat didadanya, dan cerita berakhir.

Seperti halnya cerita roman klasik lainnya, Ada persamaan ketika pemeran antagonis mencoba mengakhiri hidup pemeran protagonis contohnya: ketika Snow White mati suri karena apel dari ibu tiri yang jahat, Sleeping Beauty tertidur 100 tahun karena kutukan jarum pintal dari Peri yang lupa diundang orangtuanya dan Sitti Nurbaya mati karena lemang beracun dari mantan suaminya. Perbedaannya, Snow White dan Sleeping Beauty pada akhirnya hidup lagi dan hidup berbahagia selamanya, sedang Sitti Nurbaya seberapapun besar cinta yang diberikan oleh Samsulbahri tak akan mengubah kenyataan, ia tak akan pernah hidup kembali.

Senin, 15 April 2013

Bumi Manusia (Tetralogi Buru #1)

Menangis dan sedih diakhir bab terakhir ini..dan semua ditutup dengan sebuah dialog:

“Kita kalah, Ma” bisik Minke

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Nyai Ontosoroh

Ini adalah perkenalan pertamaku pada kisah para manusia..tentang kisah cinta pria pribumi dan wanita Indo nan cantik jelita; Minke dan Annelies Mellema..tentang kewibawaan seorang wanita pribumi tangguh; Sanikem atau kita lebih mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh..tentang seorang pria pribumi yang gamang akan hidupnya, haruskah ia hidup seperti ayah dan semua nenek moyangnya; mengagungkan sembah pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin!! Itu bukanlah yang Minke inginkan kelak dilakukan oleh anak-cucunya.. atau haruskah ia mengagungkan adat budaya Eropa..jiwa ke-Eropa-an yang memberinya pengetahuan dan peradaban..tapi hukum Eropa-lah yang juga merebut orang yang paling dikasihinya..Annelies..

Apa yang akan dilakukan oleh Minke selanjutnya??

Anak Semua Bangsa (Tetralogi Buru #2)


Hapus air mata dan lepas semua duka lara..lihatlah keadaaan disekelilingmu;

“Sebagaimana kita akan tetap terkenang pada hari ini, dia pun seumur hidup akan diburu-buru oleh kenangan hari ini, sampai matinya, sampai dalam kuburnya.” Nyai Ontosoroh
“Ya Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun dengan mulut.” Minke

Ini adalah kisah tentang duka..tentang kehilangan..Annelies..Ini juga merupakan sebuah periode bagi Raden Mas Minke..untuk bangkit dari kesedihan..lewat sepotong cerita dari Tulangan, Sidoarjo..Daerah asal Nyai Ontosoroh, Minke menemukan Kisah Nyai Surati dan petani Trunodongso..kisah yang secara tidak langsung menyingkap tabir masa lalu kelam bagi sang tuan besar Mellema..dan dari Tulangan, Minke yang sudah terbiasa menikmati segala sanjung puja lewat garis bangsawan yang dimilikinya, melihat dengan mata kepalanya sendiri..kenyataan bahwa rakyat jelata tak berdaya..melawan kekuasaan bangsa Eropa..Lewat para sahabatnya yang merupakan anak segala bangsa; Jean Marais, Kommer, Khouw Ah Soe dan korespondensinya dengan keluarga de la Croix (Herbert, Sarah dan Miriam)..juga lewat guru sekaligus ibu mertuanya; Nyai Ontosoroh..Minke disadarkan untuk tak melulu membanggakan peradaban Eropa..untuk tak selalu mengunggulkan catatannya dalam bahasa Belanda..lewat anak segala bangsa..kesadarannya mulai tergugah.. bahwa untuk melawan segala bentuk ketidakadilan yang mendera bangsanya..ia harus menulis dalam bahasa bangsanya..dan berbuat sebaik-baiknya bagi bangsanya..

Berhasilkah Minke mencapai tujuannya??

Jejak Langkah (Tetralogi Buru #3)

Aku lari ke belakang, cepet-cepet mandi. Masuk ke kamar,mengenakan pakaian kemarin. Semua telah terkunci di dalam kopor atau lemari. Kotak kunci pun terkunci. Anakkunci dibawa Prinses tak tahu lagi aku bagaimana kemunculanku. Destar aku pasangkan sekenanya. Dan selopnya yang sebelah.. ah kau selop, dimana pula kau bersembunyi? Mengapa pula kau ikut-ikutan mengganggu aku? Rupa-rupanya anak anjing tetangga sebelah telah menyembunyikannya, atau menggondolnya.

“Piaaaaah!”

“Selop! Mana selop!”

.............

Tak dapat aku melangkah menuruni jenjang sambil berpaling padanya. Dia mutiara yang tak pernah aku kenal selama ini. Prinses telah mendidiknya.

Tak aku sadari kakiku tak berselop.

Ini adalah sebuah hari yang baru..Tahun 1900, STOVIA dan Ang San Mei, 3 hal pembuka yang mewarnai jalan hidup Minke. Lewat Jejak Langkah, Max Tullenaar alias Minke mulai mengkoordinir dalam; organisasi dan jurnalistik sebagai bentuk usaha dari apa yang bisa dia berikan bagi bangsanya.. sebuah bangsa yang bahkan belum memiliki nama.. semua hal ini pasti ada kesulitan; organisasi pertama yang ia dirikan beranggotakan para priyayi statis, tak punya gairah hidup, ingin menghabiskan hidup dengan tenang dalam dinas Gubermen dan ‘Medan’ koran Pribumi berbahasa Melayu pertama yang didirikannya, mendapat pengawasan ketat dari Gubermen serta gangguan dari gerombolan De Knijpers, T.A.I, dan De Zweep yang tak lain; Robert Suurhof, salah satu dalangnya. Kisah yang semakin membuat ku terperosok pada zaman yang terjadi ketika itu; tentang pekik hiroik yang diteriakkan para pejuang Aceh dan Bali, tentang kisah gadis Jepara, dan lagi Minke dengan kisah cintanya; Bunga Akhir Abad, Ang San Mei.. dan Prinses Kasiruta.. Dua diantaranya sudah pergi meninggalkannya..satu peristiwa diujung cerita memaksa Minke untuk meninggalkan apa yang dimilikinya, Apakah Minke akan meninggalkan sang Putri Maluku ini juga..??

Rumah Kaca (Tetralogi Buru #4)


Sudah selesai semua petualangan para manusia dan bumi-nya, atas persaudaraan dan kesamaan nasib anak semua bangsa yang tak mau lagi terbelenggu oleh kolonialisme dan keinginan untuk memerdekan diri sendiri dan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan, akan menciptakan jejak langkah bagi generasi mereka dan generasi sesudah mereka..

Minke..

Ia pergi dalam kesepian—ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah dalam hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Ini hanya terjadi di Hindia, di mana tulang belulang pun dengan cepat dihancurkan oleh kelembapan. Bagaimanapun masih baik dan masih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapatkan banyak pengikut.

Ubah sudut pandangmu..dan nikmatilah sudut pandang baru ini..bukan lagi dari sudut pandang Minke..tokoh yang kita telah kenal sebelumnya..tapi dari seorang Jacques Pangemanann.. tokoh yang kuanggap tidak penting..sampai-sampai aku tidak mencantumkan nama-nya pada Jejak langkah..

Ia pengawas ketat bangsa-nya sendiri demi keselamatan dan kelangsungan hidup Gubermen. Semua pribumi-telah ditempatkannya dalam sebuah rumah kaca dan diletakkan dalam meja kerjanya. Segalanya menjadi jelas terlihat. Itulah pekerjaannya-mengawasi semua gerak-gerik seisi rumah kaca itu.

Maka bila ia berhasil menyelesaikan tulisan ini, dan sampai pada tangan kalian, hendaklah pada catatannya ini kalian beri judul Rumah Kaca..

Tapi yang terjadi..

Rasa penyesalan dan duka telah memenuhi hati nuraninya..diakhir perjalanan hidupnya, walaupun belum selesai catatannya mengenai Rumah Kaca..paling tidak ia telah berikan;

Kepada Madame Sanikem Le Boucq

..cukuplah semua tertera dalam berkas catatanku Rumah Kaca ini, yang dengan rela kupersembahkan kepadamu. Madamlah hakimku. Hukuman aku terima Madame.

Bersama ini aku serahkan juga padamu naskah-naskah yang memang menjadi hakmu , tulisan R.M Minke, anakmu terkasih. Terserah bagaimana Madame menggunakan dan merawatnya.

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humile--Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Hina

Adieu Buru..

Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16


Tuban..
Tuban sebuah kota kabupaten disebut Pramoedya untuk menggambarkan keadaan maritim negeri kita tercinta ini..Indonesia..bukan Sriwijaya..bukan Majapahit..tapi Tuban..sebuah kerajaan kecil..dan dari sinilah cerita kita mulai..

Wiranggaleng..seorang pemuda biasa..yang mencintai gadis penari..Idayu..harus terpelencat masuk ke tengah kekuasaan Adipati Tuban, Wilwatikta (keturunan Rannggalawe) adalah seorang yang disinyalir ikut terlibat dalam kejatuhan Majapahit..dan jabatan yang disandang Wiranggeleng menjadi syahbandar muda Tuban.

Tahun 1511 adalah sebuah tahun yang penting bagi maritim nusantara karena disekitar tahun tersebut Malaka yang dikenal sebagai salah satu bandar besar di Asia..jatuh ketangan Peranggi (orang-oranng Eropa; Prancis ,Portugis, dan lainnya) dan bagi Tuban ini adalah sebuah ancaman besar..lalu lintas perdagangan menjadi terputus karena kapal-kapal dagang yang akan berlabuh ke Tuban..tidak berani berhadapan dengan Portugis..

Beberapa tahun berselang setelah kejatuhan Malaka..Adipati Unus..anak Raden Fatah dari kerajaan Demak mencoba untuk merebut Malaka kembali. Dengan tanpa bantuan Tuban (karena Demak merampas Jepara yang merupakan wilayah kekuasaan Tuban)..Adipati Unus menyerang Malaka dibantu oleh kerajaan-kerajaan kecil dari Sumatera (pecahan kerajaan Samudera Pasai.. maaf lupa detailnya ;p )..tapi gagal..telak..! Pasukan mereka di tumpas oleh persenjataan Portugis yang lebih tangguh. Kekalahan kerajaan nusantara ini, diperparah dengan adanya konflik internal yang terjadi dalam dalam diri mereka sendiri..mereka masing-masing kerajaan ini..ingin menguasai Malaka hanya untuk kepentingan kerajaan mereka sendiri.

Sementara itu..Trenggono adik dari Adipati Unus juga berambisi merebut Malaka dan kota-kota pelabuhan di Jawa Termasuk juga Tuban didalamnya..Wiranggeleng yang kini menjadi senapati Tuban dikirim oleh sang Adipati untuk menyerang Malaka..padahal pada saat yang sama pasukan Trenggono tengah menyerang Tuban..pecah perang saudara..Trenggono melawan kakaknya sendiri Adipati Unus..dan ibu mereka..Ratu Aisah..ada dipihak kerajaan Tuban.

Senapati Wiranggaleng cepat-cepat kembali ke Tuban..dan berhasil menghalau serangan Demak..pasukan Demak terusir. ..Trenggono mati!! Sementara itu..Portugis telah berhasil membinasakan armada laut kerajaan nusantara termasuk Tuban didalamnya..armada Portugis telah berhasil menguasai perairan nusantara sebelah timur (Maluku) dan mulai masuk kewilayah Jawa dengan mendirikan benteng pertahanan..

Arus telah berbalik..kita bukan lagi tuan untuk tanah dan air kita sendiri..karena mereka (orang –orang Eropa) yang kinilah menguasainya.. babak baru kolonialisme dimulai dari sini..

Bagaimana dengan nasib Wiranggaleng..??
Ia bosan berperang..ia menyerah untuk menahan arus balik..ia memilih tidak untuk jadi raja..ia ingin kembali jadi penduduk biasa jadi petani..

(jujur aku baca novel ini lompat..lompat...skip..dan skip lagi.. di bagian-bagian yang kuanggap tidak penting..panjang..panjang sekali percakapan yang ada dalam buku ini..sungguh sebuah novel yang amat melelahkan..dan juga amat bernilai..terima kasih Pramoedya!!!)